Untuk sebuah peduli, aksaraku menari
Kalimat itu adalah tagline dari Blogku. Bukan sekedar kalimat tanpa arti yang hanya
mengumbar kata. Kalimat itu adalah energi sekaligus mesin pengingat untukku
betapa sebagai manusia kita adalah bagian dari manusia lainnya. Kalimat itu
pula yang sering memberiku energi untuk tak pernah letih berbagi. Ada hak orang lain pada
kesempurnaan yang kita miliki. Ada
senyum mereka di kebahagiaan yang kita rasakan.
Membaca salah satu catatan yang diposting
oleh seorang sahabat dari Sampang, aku terharu. Sesuatu yang pernah aku dan
beberapa sahabat lakukan yang bahkan hingga detik ini kami telah melupakannya,
ternyata berdampak besar. Kurasa apa yang pernah kami berikan hanyalah secuil
hal kecil.
Satu tahun yang lalu dalam sebuah tajuk
perjalanan “Bersama Berbagi Bahagia” ditemani oleh empat jiwa baik berhati
indah, begitu sahabatku menyebutnya. Kami menyusuri empat kabupaten di Pulau
Madura. Menyinggahi beberapa daerah pedalaman yang sama sekali sangat jauh dari
angan kami kala itu. Pemandangan dahsyat disajikan Tuhan di setiap jejak yang
kami lalui. Ada
mutiara-mutiara terpendam yang sangat jauh dari publikasi. Ada hati-hati indah yang benderang namun tak
tersentuh peradaban moderen. Di perkampungan yang sangat jauh dari kota dan berada di
belakang pegunungan, kami berjumpa dengan seorang sahabat yang ternyata tanpa
disadari telah lama mengagumi kami. Ah sungguh sempat tersanjung tapi segera
kami berbenah hati. Tidak, kami hanyalah manusia biasa dengan segenap
kesederhanaan hidup. Satu hal yang mengejutkan di pelosok itu ada bibit-bibit
literasi. Mereka yang terbelenggu oleh keterbatasan namun tak pernah
membelenggu gelora serta semangat menulisnya. Sumenep, sajian alam Maha Indah
dan pelajaran hidup yang sangat berharga. Pada mereka, kami belajar bagaimana
menghargai hidup dan menapakinya dengan lebih bijaksana. Pada mereka, kami coba
kembali memahami betapa hidup akan sangat berarti ketika kita tak pernah
tenggelam dalam kesedihan, keterbatasan dan terus meratap. Hidup akan
memberikan ruang dan cahayanya ketika kita tak pernah menyerah untuk menyalakan
dian semangat guna meraih mimpi. Impian yang seyogyanya milik semua orang, dan
hanya akan menjadi milik mereka yang tak pernah kenal lelah untuk memperjuangkannya.
Pada sebuah daerah di Sampang,
malaikat-malaikat kecil kembali menyambut kami dengan riuh tawa khas. Gambaran
masa yang memprihatinkan tapi tak memudarkan senyum diantara mereka. Sempat
miris melihat kondisi sekolah yang sangat jauh dari kata layak. Bagaimana
tidak, sekolah ini tak mempunyai perpustakaan padahal buku aalah sumber ilmu
dalam proses belajar mengajar. Satu yang kusalutkan sebab dalam keterbelakangan
seperti itu, mereka tak kenal menyerah untuk terus belajar. Dengan pakaian seadanya
yang sangat berbeda jika dibandingkan dengan seragam-seragam anak sekolah di kota, kadang tanpa
sepatu, tapi melihat mereka berlarian menuju sekolah ini sungguh tak kuasa
menahan sesak di dada. Setidaknya mereka mengerti, bahwa menuntut ilmu adalah bagian
dari cara mereka mengejar mimpi.
Berada di haapan mereka walau dalam waktu
yang sebentar, sekedar berbincang mendengar keluh kesah serta berbagi
pengalaman betapa kamipun pernah berada dalam situasi yang tak nyaman seperti
itu. Keterbatasan, sekali lagi menjadi ancaman mematikan jika menyerang
anak-anak yang mudah putus asa. Kepada mereka, kami berbagi bahwa setiap orang
punya kesempatan yang sama untuk mengejar impiannya, tapi tidak semua orang
berani melakukan itu. Banyak yang memilih menyerah dan mundur sebelum
berperang. Kalau kami bisa berdiri seperti apa yang mereka kagumi kini, maka
merekapun harus percaya bahwa di masa datang merekalah yang akan berdiri
seperti ini.
“Kini,
sekolah kami sudah punya perpustakaan”
Kabar itu membuat aku dan sahabat lainnya
sumringah. Ah, sungguh perjuangan kalian tak pernah sia-sia. Kini, perpustakaan
itu bukan mimpi lagi bukan ? Sekarang kalian bisa mengejar segala
ketertinggalan. Walaupun koleksinya belum sebanyak sekolah pada umumnya, tak
perlu berkecil hati. Sebab aku percaya diluar sana masih banyak para sahabat yang bersedia
untuk menyumbangkan buku-buku mereka dengan ikhlas.
Menjadi bagian dari perubahan itu adalah
anugerah. Tidak semua orang berkesempatan berada di dalamnya. Dulu, kami hanya
melakukan itu tulus tanpa pernah berfikir apa yang akan terjadi di masa
berikutnya. Bukankah hal baik yang kita lakukan kepada orang lain, tak
semestinya diingati terus. Tak pernah disangka jika hal kecil akan berdampak
besar di kemudian hari.
Aku selalu percaya bahwa Tuhan sudah
menitipkan kepedulian kepada setiap hati, ada yang mengambilnya tapi ada pula
yang memilih melepaskannya. Peduli, mungkin kata biasa tapi ia menjadi sangat
berarti ketika berada di hati yang tepat dan untuk hati yang tepat. Maka
masihkah kita menutup mata, telinga dan kepekaan hanya karena keegoisan sebagai
manusia.
Marilah saling bergandengan, berpegangan
tangan untuk mereka diluar sana
yang membutuhkan uluran tangan. Merapatkan barisan untuk terus bergerak nyata.
Masih banyak anak-anak di daerah pedalaman, pelosok-pelosok yang tak terjangkau
yang sesungguhnya mempunyai hak sama seperti anak-anak lainnya. Mari saling
merapatkan barisan untuk memberi warna pada jejak kehidupan yang memberi kita
kesempatan berbuat lebih banyak untuk mereka. Percayalah, hatiku, hatimu bahkan
hati-hati mereka diluar sana
adalah hati terpilih. Maka masihkah kita tak peduli ?.
::: Pecinta
Senja :::


Tidak ada komentar:
Posting Komentar