Kamis, 21 Februari 2013

Berartinya sebuah “PEDULI”




    Untuk sebuah peduli, aksaraku menari
     Kalimat itu adalah tagline dari Blogku. Bukan sekedar kalimat tanpa arti yang hanya mengumbar kata. Kalimat itu adalah energi sekaligus mesin pengingat untukku betapa sebagai manusia kita adalah bagian dari manusia lainnya. Kalimat itu pula yang sering memberiku energi untuk tak pernah letih berbagi. Ada hak orang lain pada kesempurnaan yang kita miliki. Ada senyum mereka di kebahagiaan yang kita rasakan.
     Membaca salah satu catatan yang diposting oleh seorang sahabat dari Sampang, aku terharu. Sesuatu yang pernah aku dan beberapa sahabat lakukan yang bahkan hingga detik ini kami telah melupakannya, ternyata berdampak besar. Kurasa apa yang pernah kami berikan hanyalah secuil hal kecil.

     Satu tahun yang lalu dalam sebuah tajuk perjalanan “Bersama Berbagi Bahagia” ditemani oleh empat jiwa baik berhati indah, begitu sahabatku menyebutnya. Kami menyusuri empat kabupaten di Pulau Madura. Menyinggahi beberapa daerah pedalaman yang sama sekali sangat jauh dari angan kami kala itu. Pemandangan dahsyat disajikan Tuhan di setiap jejak yang kami lalui. Ada mutiara-mutiara terpendam yang sangat jauh dari publikasi. Ada hati-hati indah yang benderang namun tak tersentuh peradaban moderen. Di perkampungan yang sangat jauh dari kota dan berada di belakang pegunungan, kami berjumpa dengan seorang sahabat yang ternyata tanpa disadari telah lama mengagumi kami. Ah sungguh sempat tersanjung tapi segera kami berbenah hati. Tidak, kami hanyalah manusia biasa dengan segenap kesederhanaan hidup. Satu hal yang mengejutkan di pelosok itu ada bibit-bibit literasi. Mereka yang terbelenggu oleh keterbatasan namun tak pernah membelenggu gelora serta semangat menulisnya. Sumenep, sajian alam Maha Indah dan pelajaran hidup yang sangat berharga. Pada mereka, kami belajar bagaimana menghargai hidup dan menapakinya dengan lebih bijaksana. Pada mereka, kami coba kembali memahami betapa hidup akan sangat berarti ketika kita tak pernah tenggelam dalam kesedihan, keterbatasan dan terus meratap. Hidup akan memberikan ruang dan cahayanya ketika kita tak pernah menyerah untuk menyalakan dian semangat guna meraih mimpi. Impian yang seyogyanya milik semua orang, dan hanya akan menjadi milik mereka yang tak pernah kenal lelah untuk memperjuangkannya.

     Pada sebuah daerah di Sampang, malaikat-malaikat kecil kembali menyambut kami dengan riuh tawa khas. Gambaran masa yang memprihatinkan tapi tak memudarkan senyum diantara mereka. Sempat miris melihat kondisi sekolah yang sangat jauh dari kata layak. Bagaimana tidak, sekolah ini tak mempunyai perpustakaan padahal buku aalah sumber ilmu dalam proses belajar mengajar. Satu yang kusalutkan sebab dalam keterbelakangan seperti itu, mereka tak kenal menyerah untuk terus belajar. Dengan pakaian seadanya yang sangat berbeda jika dibandingkan dengan seragam-seragam anak sekolah di kota, kadang tanpa sepatu, tapi melihat mereka berlarian menuju sekolah ini sungguh tak kuasa menahan sesak di dada. Setidaknya mereka mengerti, bahwa menuntut ilmu adalah bagian dari cara mereka mengejar mimpi.
     Berada di haapan mereka walau dalam waktu yang sebentar, sekedar berbincang mendengar keluh kesah serta berbagi pengalaman betapa kamipun pernah berada dalam situasi yang tak nyaman seperti itu. Keterbatasan, sekali lagi menjadi ancaman mematikan jika menyerang anak-anak yang mudah putus asa. Kepada mereka, kami berbagi bahwa setiap orang punya kesempatan yang sama untuk mengejar impiannya, tapi tidak semua orang berani melakukan itu. Banyak yang memilih menyerah dan mundur sebelum berperang. Kalau kami bisa berdiri seperti apa yang mereka kagumi kini, maka merekapun harus percaya bahwa di masa datang merekalah yang akan berdiri seperti ini.

     “Kini, sekolah kami sudah punya perpustakaan”
     Kabar itu membuat aku dan sahabat lainnya sumringah. Ah, sungguh perjuangan kalian tak pernah sia-sia. Kini, perpustakaan itu bukan mimpi lagi bukan ? Sekarang kalian bisa mengejar segala ketertinggalan. Walaupun koleksinya belum sebanyak sekolah pada umumnya, tak perlu berkecil hati. Sebab aku percaya diluar sana masih banyak para sahabat yang bersedia untuk menyumbangkan buku-buku mereka dengan ikhlas.
     Menjadi bagian dari perubahan itu adalah anugerah. Tidak semua orang berkesempatan berada di dalamnya. Dulu, kami hanya melakukan itu tulus tanpa pernah berfikir apa yang akan terjadi di masa berikutnya. Bukankah hal baik yang kita lakukan kepada orang lain, tak semestinya diingati terus. Tak pernah disangka jika hal kecil akan berdampak besar di kemudian hari.

     Aku selalu percaya bahwa Tuhan sudah menitipkan kepedulian kepada setiap hati, ada yang mengambilnya tapi ada pula yang memilih melepaskannya. Peduli, mungkin kata biasa tapi ia menjadi sangat berarti ketika berada di hati yang tepat dan untuk hati yang tepat. Maka masihkah kita menutup mata, telinga dan kepekaan hanya karena keegoisan sebagai manusia.
     Marilah saling bergandengan, berpegangan tangan untuk mereka diluar sana yang membutuhkan uluran tangan. Merapatkan barisan untuk terus bergerak nyata. Masih banyak anak-anak di daerah pedalaman, pelosok-pelosok yang tak terjangkau yang sesungguhnya mempunyai hak sama seperti anak-anak lainnya. Mari saling merapatkan barisan untuk memberi warna pada jejak kehidupan yang memberi kita kesempatan berbuat lebih banyak untuk mereka. Percayalah, hatiku, hatimu bahkan hati-hati mereka diluar sana adalah hati terpilih. Maka masihkah kita tak peduli ?.


::: Pecinta Senja :::

Tidak ada komentar: