Dalam bahagia, tawa leluasa hadir.
Diantara riuh gemilang kemenangan, air mata bukan lagi kawan bercengkerama.
Kita lena, beku dalam sorak yang melagu. Kita terbang, lupa untuk berpijak.
Kala sentilan sesaat menyapa pelan,
degup rasa bergerak hebat dalam ketakadilan yang dipertanyakan. Terlupa betapa
Tuhan sedang ajarkan sebuah makna hakikinya hidup.
Hati merana, menagih
pertanggungjawaban zaman. Bagaimana bisa mempersalahkan segala kebisuan yang
ada di sekitar. Lalu kemana selama ini jiwa bergerak. Mengapa tak pernah
mencoba berterima kasih pada segenap kegetiran, bukankah dari sana segala mula penemuan makna itu.
Kesedihan, rasa kehilangan, kesepian
yang membelenggu sunyi adalah bahasa semesta yang sedang mangajak kita untuk
mengerti betapa berharganya sebuah kebersamaan. Ketakberdayaan mengajarkan kita
betapa kecilnya manusia di hadapan Tuhan. Tak layak kesombongan menjadi
tunggangan makhluk bernama manusia di bumi ini.
Sikap tak bersahabat, ketakpedulian
dan tanggapan dingin yang menyudutkan kita pada satu fase merasa tak berarti
sesungguhnya adalah cara hidup mengajarkan kita menjadi pribadi yang tegar
dalam segala prasangka terbaik. Semestinya kita berterima kasih pada semua itu,
bukan mengecamnya dengan air mata kesedihan.
Hidup mengajarkan kita untuk hidup
dengan lebih hidup.
Memberi ruang untuk mengeja setiap
makna dengan lebih bermakna
Dan senantiasa tersenyum kepada
segala peristiwa
Juga jiwa yang menoreh lara
::: Pecinta Senja :::

Tidak ada komentar:
Posting Komentar