Senin, 18 Februari 2013

Hidup Mengajarkan Kita Untuk Hidup





            Dalam bahagia, tawa leluasa hadir. Diantara riuh gemilang kemenangan, air mata bukan lagi kawan bercengkerama. Kita lena, beku dalam sorak yang melagu. Kita terbang, lupa untuk berpijak.
            Kala sentilan sesaat menyapa pelan, degup rasa bergerak hebat dalam ketakadilan yang dipertanyakan. Terlupa betapa Tuhan sedang ajarkan sebuah makna hakikinya hidup.

            Hati merana, menagih pertanggungjawaban zaman. Bagaimana bisa mempersalahkan segala kebisuan yang ada di sekitar. Lalu kemana selama ini jiwa bergerak. Mengapa tak pernah mencoba berterima kasih pada segenap kegetiran, bukankah dari sana segala mula penemuan makna itu.
            Kesedihan, rasa kehilangan, kesepian yang membelenggu sunyi adalah bahasa semesta yang sedang mangajak kita untuk mengerti betapa berharganya sebuah kebersamaan. Ketakberdayaan mengajarkan kita betapa kecilnya manusia di hadapan Tuhan. Tak layak kesombongan menjadi tunggangan makhluk bernama manusia di bumi ini.
            Sikap tak bersahabat, ketakpedulian dan tanggapan dingin yang menyudutkan kita pada satu fase merasa tak berarti sesungguhnya adalah cara hidup mengajarkan kita menjadi pribadi yang tegar dalam segala prasangka terbaik. Semestinya kita berterima kasih pada semua itu, bukan mengecamnya dengan air mata kesedihan.

            Hidup mengajarkan kita untuk hidup dengan lebih hidup.
            Memberi ruang untuk mengeja setiap makna dengan lebih bermakna
            Dan senantiasa tersenyum kepada segala peristiwa
Juga jiwa yang menoreh lara

            ::: Pecinta Senja :::

Tidak ada komentar: