12 – 02 – 2012
Tanggal yang cantik. Hariku juga sangat cantik. Aku nggak pernah menyangka kalau akan menjejakkan lagi kaki di sawah-sawah ini. Masih jelas dalam ingatan semua pekerjaan ini pernah aku lakukan beberapa tahun silam saat masih asyik berstatus sebagai mahasiswa Pertanian. Sebuah jurusan yang awalnya aku anggap sebagai sebuah kesalahan. Disaat beberapa sahabat seperjuanganku tengah menikmati indahnya masa-masa kuliah dengan santai, karena jurusan yang mereka pilih adalah sosial. Sementara aku harus berkutat dengan seabrek praktikum yang tiap hari harus aku jalani hingga jam enam sore. Belum lagi harus melewati serangkaian tes. Sedang pagi hingga siang harus berkutat dengan kuliah kelas. Rasanya memang tak ada waktu untuk bersantai sekedar jalan-jalan menikmati udara di luar sana, cuci mata dengan teman-teman sebaya, nyaris sangat langka bagiku. Tapi siapa sangka justru padatnya aktivitas kuliah masih memberiku kesempatan untuk mengikuti hampir sepuluh organisasi kampus. Alhasil seringkali tidur hingga larut pagi karena harus membagi waktu. Tak pernah ada yang sia-sia untuk setiap peluh,. Itu janji Tuhan. Aku masih bisa bertanggungjawab pada orang tua dengan menyelesaikan pendidikan kurang dari empat tahun dengan predikat Cumlaude.
Siang ini menapaki kembali ingatanku akan masa lalu, syukur kembali terucap. Andai saja Tuhan tak memberiku kesempatan mencicipi lelah di masa lalu, mungkin saja aku takkan tersenyum disini bersama para petani itu. Rasanya seperti dejavu bisa merasakan lagi bercengkerama dengan tanah, lumpur, panas yang menyengat, padi yang meliuk mesra, peluh yang menetes dan senyum hangat mereka yang selalu bersyukur. Kadang miris meratapi nasib mereka, bagaimana tidak mereka harus rela menerima harga yang terbilang sangat murah setelah panen. Namun tak ada keluh di wajahnya, hanya senyum dan ucap syukur. Ah, Tuhan entah telah kemana ilmu yang selama ini kudapat. Setelah pergulatan zaman menempatkanku pada persinggungan realita yang tak sama.
Hari ini, rinduku tertuntaskan. Bersama para petani-petani itu di sawah, meleburkan kembali sedikit pengetahuan yang hampir saja punah oleh rutinitas yang tak serupa. Asam, basa, lempung … Ah Tuhan, entah berapa istilah lagi yang masih aku ingati kini. Aku rindu, sungguh rindu semua itu.
Dan hari ini, Tuhan terima kasih untuk semuanya. Begitu banyak hal yang harus kuselesaikan hari ini, namun semua terasa indah. Bersama jiwa-jiwa
Tidak ada komentar:
Posting Komentar