Menjelang dini, 24 Februari 2012
Aku pernah berada pada titik kejenuhan, merasa lelah dengan segala yang ada. Pernah tak mengerti harus bagaimana. Pernah merasa semangat telah benar-benar hilang meninggalkanku. Tak lagi produktif menulis. Target 100 buah buku antologi yang menjadi salah satu resolusi 2012 seakan sirna. Hingga prtengahan Februari baru 60 buku. Sementara 40 buku yang harus nyata dibutuhkan semangat yang mungkin harus ekstra luar biasa bagiku. Luruh dan benar-benar vakum. Literasiku tak lagi menggeliat seperti bulan lalu.
Aku bukan manusia yang mudah menyerah. Walaupun tak tahu mesti kemana, aku terus mencari semangat itu. Sayang, aku tak pernah menemukannya pada setiap jejak yang kuukir atau tempat yang kusinggahi.
Sebuah perjalanan memberiku makna luar biasa. Aku temukan semangat itu bukan dimana-mana, tapi dalam diriku sendiri. Ya, semangat itu sebenarnya tak pernah kemana-mana. Ia selalu ada dalam diri kita hanya saja rasa lelah kerapkali menjadikan alasan untuk melepaskannya.
Perjalanan yang membuatku menemukan banyak makna hakiki kehidupan. Bukan saja tentang semangat, rasa, kesederhanaan juga ketangguhan. Tapi aku juga menemukan begitu banyak hal yang memperteguh keislaman juga keimananku. Tuhan, terima kasih untuk semuanya. Hanya atas rencanaMu saja, semua ini terjadi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar