Sejak Ayah mengenalkanku pada jingga di kaki langit sore itu, mataku tak pernah bisa melepaskannya. Gadis kecil yang tiba-tiba saja merasakan betapa langit begitu indah. Tanpa aku sadari, aku menjadi pecandu senja. Bukan saja senyum selalu terlukis di sudut bibirku tapi seringkali tetes hangat mengaliri pipiku. Aku terlalu kagum dengan lukisanNya yang tak pernah tertandingi.
Pada jingga, kutemukan diriku. Pada jingga, kutemukan damai. Pada jingga, kutemukan sunyi dan sendiri yang membuatku lebih mengenalNya. Kala sebagian orang merasakan sunyi begitu mencekam, bagiku sunyi itu indah. Aku bisa berdansa dengan penjagaku. Aku bisa berkidung dengan penilai hatiku. Aku bisa tertawa lepas dengan segala ketaksempurnaanku. Dia tak pernah membuatku merasa sendiri, Dia tak pernah membuatku berjelaga.
Pernah kukabarkan sebuah rindu padaNya. Dia tersenyum dan mengajakku terbang pada rasa yang hanya aku dan Dia saja yang tahu. Lalu kembali kudatangi senja, aku semakin jatuh cinta. Dia tahu aku sangat mencintai lukisan senjaNya, maka diajakNya aku berkelana, mempertemukanku dengan banyak kisah juga jiwa-jiwa yang memperkaya pembelajaran hidupku. Lalu aku, bertambah jatuh cinta.
Senja, takkan pernah habis untuk ku berkisah. Dia mengajakku bertemu dengan malaikat-malaikat kecil, orang tua-orang tua terlantar juga sebuah rasa “Peduli”. Bagaimana bisa aku tak mencintai senja, sedang dia memberiku warna hidup yang semarak. Bagaimana bisa aku tak merindukan senja, sedang dia selalu setia mencandaiku. Bagaimana bisa aku tak mengejar senja, sedang dia selalu memberiku kisah manis di setiap jejaknya.
Dan aku, jatuh cinta pada senja untuk kesekian kalinya.
Saat kau menatap senja, sepenggal senyumku ada disana.
Sederhana saja ….
Tidak ada komentar:
Posting Komentar