Jumat, 25 Mei 2012

Aku dan Pena


          Ada gundah saat tak berjumpa, ada gelisah kala tak bersama. Gumpalan rindu meradang memenjarakan geliat-geliat aksara yang terus saja berlarian dengan liar. Tak rela melepaskannya namun tak berdaya  saat raga lemah dan menjemput dalam sebentuk ketentuan untuk mengistirahatkan pena sejenak. 

          Senja begitu saja terlewat, langit tak sempat kusapa seperti biasa namun pena seolah tak hendak terlalu lama bersandar. Satu persatu aksara kembali mengetuk pintu-pintu nalar. Mengajaknya berkelana lagi untuk bertemu dengan milyaran aksara, jutaan kalimat dan ribuan ide yang selalu tak bisa duduk berdiam.
          Diantara raga yang masih melemah, kurangkai lagi aksara. Malam ini semua hendak kumulai. Bertaruh lagi dengan waktu untuk memenuhi segenap janji yang telah tersemat.
         
          Detik telah menggariskan bahwa menulis bukanlah sekedar ceremonial jiwa tapi ia adalah ruh. Setiap detik, segala yang terlihat dan terdengar adalah aksara alam yang berbahasa. Tak ada lagi yang harus terpenjara dalam sekat sebab aksaraku akan selalu bersahabat dengan pena. Penaku tak akan pernah berhenti. Ia akan terus bergerak, bergerak, bergerak, terus bergerak.

Tidak ada komentar: