Kita bisa!
Kita pasti bisa!
Kita harus bisa!
Sembari berlarian setiap sore. Membelah senja, menapak jingga. Berbalut busana muslimah yang di dahulu kala belum sengetren sekarang. Meski ini bukan persoalan trend atau kekinian tapi sebuah kewajiban.
Kami lahir dan tumbuh di kampung. Besar dan bermain layaknya keseruan bocah negeri ini. Tanah yang kami pijak terjunjung dengan sangat lekatnya. Anak negeri yang berani bermimpi tentang masa depan. Bocah-bocah yang senantiasa tertawa walau kadang kehidupan tidak seindah tayangan televisi. Kami tetap saja bergerak, belajar, berlari dan bernyanyi.
Selayang pandang jiwa membawa kami luruh. Di tanah ini kami kembali. Bukan lagi sebagai bocah ingusan yang selalu asyik dengan debu dan panas. Kami datang dengan mimpi yang sudah nyata. Kami hadir dengan senyum yang kini bisa kami senandungkan dengan sangat manis. Bertahun sudah jiwa-jiwa para bocah berlari. Tangan tak lagi tergamit, raga tak jua berjumpa tapi kami selalu percaya simpul persahabatan tidak akan pernah putus. Meski jejak zaman sangat jarang membawa satu dan yang lainnya untuk berkirim kabar, tapi kami saling menjumpa dalam doa. Setangkup harap semoga sibukku dan sibuk mereka semua adalah sibuk yang indah. Melegakan dan menjernihkan jiwa, karena sibuk masing-masing justru adalah energi untuk kembali pada zaman dimana keceriaan tak lekang.
Ida, si gadis cantik ini harus rela menghabiskan sebagian besar waktunya di Bumi Bima. Binar matanya berkisah bahwa ia sangat bahagia. Bima, bukan tanah luar Jawa yang gersang juga menakutkan. Bumi Bima itu sangat indah. Walau dari tanah kami masih terhitung jauh tapi perjalanan menuju kesana justru membuat cerita lebih bernilai. Ah, dua malaikat kecilnya juga sangat lucu. Benar-benar beruntung bisa hidup di dua tanah negeri yang berbeda. Kaya budaya, kaya rasa, kaya hati dan kaya empati.
Aku, Kiki dan Aning masih setia disini. Setelah berkelana lumayan lama, singgah dari satu kota ke kota lain. Kini, kami kembali untuk negeri yang kami cintai. Demi tanah yang selalu kami junjung tinggi. Berubah? Ya, semua telah berubah. Tubuh tak lagi semungil dulu, walau tawa lebih renyah. Pikiran tak sependek dulu, meski hormat pada budaya tetap kami jaga. Semakin bijak, semakin luas hati, semakin arif.
Ini kami, yang masih tetap bersemangat tentang masa depan. Ini kami, yang selalu mengagungkan persahabatan sebagai ikatan hati. Ini kami, yang senantiasa saling bergenggaman jemari dalam makna sesungguhnya. Ini kami, bocah-bocah kampung yang turut mewarnai negeri dengan karya.
Berkah ramadhan, menyemesta.
Merangkul semua hati dalam catatan rasa nan suci.
Memeluk senja yang kian hilang, berganti malam.
Tuhan Maha Baik, terima kasih mengijinkan hati kami berkisah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar