Kamis, 03 Februari 2011

KETIKA TANGANKU SERUPAMU (naskah women only)

KETIKA TANGANKU SERUPAMU

Endang SSN


Wajah cantik, tutur lembut dan laku yang bijak, gambaran yang tercitra dalam raga seorang perempuan. Tak ada beda, bagiku semua perempuan terlahir cantik tanpa cela, hanya butuh rasa syukur untuk mengamini segala anugerah tersebut. Perempuan dan dunia selayak dua sisi mata uang yang tak bisa dipisahkan. Berapa banyak perubahan dunia disebabkan oleh daya seorang perempuan, bahkan dibalik kesuksesan lelaki manapun, selalu ada perempuan hebat dibaliknya.
Pergolakan zaman dan pergeseran peradaban terkadang menempatkan seorang perempuan pada sisi terlemah. Dianggap tak berdaya, tak mampu memanggul segala tugas berat di pundaknya yang lembut. Kerapuhan seringkali diidentikkan dari air mata yang kerapkali mengalir dari rasa yang tersentuh. Bukankah itu kodrati ? Mengapa mesti menganggapnya sebentuk kelemahan.
Ada baiknya kita mengembangkan cakrawala berfikir, sekedar melihat kembali berapa banyak perempuan yang mampu berkembang di tengah himpitan tugasnya sebagai seorang istri dan ibu. Lihatlah di seluruh pelosok dunia, tak ada lagi kesenjangan antara perempuan dan laki-laki. Pekerjaan mereka juga bisa dilakukan oleh kaum perempuan. Emansipasi yang telah lama didengungkan memang menjadi batu loncatan sebagai pembuka gerbang menuju kemerdekaan berkarya. Kalau dulu seorang perempuan hanya bisa berdiam diri di rumah, menjalankan tugas rutin sebagai ibu rumah tangga dan menjadi sekolah pertama bagi anak-anaknya, kini dunia mereka tak hanya seluas rumah yang ditempati. Begitu banyak perempuan yang mampu mencatatkan namanya di lembar sejarah walaupun Ia hanya seorang ibu rumah tangga. Contohnya saja penulis ternama sehebat Djenar Mahesa Ayu dari Indonesia. Namanya sangat unggul tanpa meninggalkan kewajiban sebagai seorang ibu. Merangkaikan kata, menebarkan karya yang memberi manfaat bagi dunia namun raganya tetap ada sebagai pendamping bagi keluarga yang membutuhkan. Ketika malam-malam dihabiskannya di depan komputer demi menyelesaikan catatan demi catatan, hatinya sebagai perempuan selalu nyata membelai anak-anaknya dan mengantarkan mereka menuju gerbang masa depan.

Terlepas dari segala kesuksesan yang telah direguk oleh sebagian perempuan, mungkin kita bisa berkaca pada beberapa buruh migran yang mengabdikan dirinya di negeri orang demi keluarga. Ketakutan akan jarak dan masa yang memisahkan mereka dengan keluarga, telah berhasil ditepis. Semangat yang terus menyala menjadikan mereka selayak lentera yang tak pernah padam. Beberapa media telah seringkali memotret kehidupan mereka, keteguhan dan perjuangan untuk mengubah nasib menjadikan segala aral dan rintangan tak lagi nyata. Berganti peran dengan laki-laki kerap mereka jalani. Tugas yang dipikulnyapun tak bisa dipandang sébelah mata. Para perempuan ini rela menghabiskan sisa hidupnya demi menghidupi keluarga tercinta, adakah perghargaan atas semua itu ?. Tak peduli lencana akan tersemat di dada mereka atau tidak, sebentuk rasa tanggung jawab membuat mereka rela mengatasnamakan segala pengorbanan dalam setitik keikhlasan. Demi hidup dan orang-orang yang dicintainya.

Para perempuan telah mulai menapaki sisi lain dari hidupnya. Memahami arti emansipasi dalam kadar yang semestinya, tak melebihkannya atas nama perubahan pola pikir. Menata hidup dengan lebih baik dan memberi cerminan layak atas kodratnya. Perasaan kebersamaan yang dirasakan sebagai sesama perempuan perlahan mulai mencuat seiring beberapa kekerasan yang kerap menimpa kaumnya. Ketika sebuah berita menyebabkan salah satu dari mereka tertindas oleh kekejaman dunia, maka seluruh hati dan perasaan bersatu demi meringankan beban. Tak peduli dari belahan bumi mana mereka berasal, tak pernah dipertanyakannya darimana berita tersiar. Merasa senasib sebagai perempuan menggugah hati mereka untuk bersatu menegakkan apa yang menjadi hak dan memberi pencerahan untuk segala kewajiban yang harus dijalaninya.

Beberapa kejadian yang sangat menggugah ketika kaumnya mendapat sorotan dalam dunia kesehatan. Perempuan selalu rentan dengan penyakit yang sering menjadi halilintar, kanker rahim. Hingga detik ini berapa banyak perempuan dari seluruh dunia yang terjangkit dan sedang menjalani pengobatan untuk penyakit tersebut. Biaya yang tidak sedikit serta proses penyembuhan yang tak kunjung terlihat hasilnya, seringkali menjadikan para penderita pesimis. Merasa hidup mereka telah berakhir, memandang kenyataan sebagai ketakadilan yang mesti diterima dengan setengah hati.
Dari sinilah rasa persatuan sebagai perempuan mulai menuai. Perasaan sebagai raga yang menderita, ritme hidup yang telah hilang arah, sedikit demi sedikit menghimpun mereka yang tersebar menjadi satu dalam arti sesungguhnya. Mereka yang berkecukupan dari sisi materi tak harus berfikir panjang untuk merogoh isi kantongnya. Para perempuan telah memahami bahwa banyak yang bisa mereka berikan untuk kaumnya. Sumbangan pemikiran untuk menemukan obat dari penyakit yang diderita, berbagai informasi yang sengaja dibagi demi menemukan jalan keluar serta tenaga yang hanya mereka miliki rela diberikannya untuk kembali menyemaikan semangat. Hidup ini indah dan harus terus diindahkan. Semua akan nyata jika persatuan sebagai perempuan dapat terjalin rekat.

Menyatukan pemikiran untuk seiring menuju perbaikan bukan hal mustahil untuk nyata. Bahkan dengan ragam teknologi yang kian marak saat ini, dimana seluruh dunia terasa berada dalam genggaman. Sekalipun ada hal yang kadang hadir sebagai rintangan. Diantaranya beberapa perempuan yang lebih condong pada perasaannya dalam mengatasi beberapa masalah pelik yang dihadapi, melepaskan logika berfikir seperti yang dimiliki oleh laki-laki. Ketika perasaan sudah menjadi landasan dari setiap permasalahan, maka kita akan terlupa untuk lebih bersifat objektif dan menakar persoalan pada tempat sebenarnya. Adanya perasaan iri yang kerapkali muncul antara satu perempuan dengan yang lainnya. Keberadaan ide yang tidak sejalan, membuat sebagian perempuan memilih mengalah namun menggerutu di belakang atau memilih pergi dan tak menggubris apa yang telah disepakati semula. Ketika perempuan tak mampu memahami arti persatuan yang sesungguhnya, maka akan muncul pemikiran bahwa dia sudah lebih dari laki-laki. Disinilah rintangan yang seharusnya dicerna dan dicari jalan tengahnya.

Ketika sejarah menuliskan bahwa perempuan dapat saling bahu membahu dengan laki-laki dalam banyak hal, semestinya beban hidup dapat teratasi bersama. Bukan berarti perempuan menjadi lebih tinggi atau menyepelekan keberadaan kaum yang lain. Emansipasi menjadikan perempuan sejajar dalam menuntut ilmu, punya kesempatan yang sama untuk maju dan berkembang. Namun sisi kodrat sebagai istri dan ibu tetap tak pernah berubah. Kelembutan dan kebijaksanaan tetap menjadi pembungkus raga yang tak pernah bergeming. Perempuan juga tetap memiliki perasaan yang halus yang juga butuh kasih sayang dari orang-orang di sekitarnya. Keberadaan perempuan memang tak lagi dipandang sebelah mata seperti masa lalu, Ia menjadi kebutuhan yang melengkapi keberadaan dunia. Beban yang menjerat tak semestinya hanya dipikul satu raga, bukankah dengan kebersamaan segalanya akan terasa lebih ringan. Suratan yang tergaris dalam tangan memanglah tak sama namun ketika tangan mereka serupa denganmu untuk turut menanggung beban dan berkarya, maka biarlah ia bersama dengan kaummu, seiring bergandengan menuju kesuksesan hidup. ***

Tidak ada komentar: