Selasa, 24 Maret 2015

Sederhananya Rasa

Karena tidak semua rasa terkatakan.
Ia sederhana. Sesederhana ketika ia lebih suka melihatmu tanpa highheels, hanya karena ia tahu kamu lebih nyaman dengan sepatu tipis dan sandal jepit.

Karena tidak semua rasa terkatakan.
Ia sederhana. Sesederhana ketika ia lebih suka menatapmu tanpa polesan make up, hanya karena ia tahu kamu lebih nyaman dengan segala kesederhanaan.

Karena tidak semua rasa terkatakan.
Ia sederhana. Sesederhana ketika ia selalu memilih tempat teduh saat terjebak macet di lampu merah, hanya karena ia tidak mau melihatmu kepanasan.

Karena tidak semua rasa terkatakan.
Ia sederhana. Sesederhana ketika ia tidak pernah letih mengingatimu untuk tidak sering begadang malam dan makan teratur, hanya karena ia ingin melihatmu selalu sehat dan ceria.

Karena tidak semua rasa terkatakan.
Ia sederhana. Sesederhana ketika ia lebih memilih jalan pulang yang membuatmu bisa melihat jingga sang sunset, hanya karena ia tahu kamu sangat mencintai senja.

Karena tidak semua rasa terkatakan.
Ia sederhana. Sesederhana ketika ia rela menerobos pagi untuk mengajakmu menikmati alam dan bertemu para pencari rezeki dalam kacamata berbeda, hanya karena ia tahu alam dan kehidupan sosial diluar sana jauh lebih menarik hatimu daripada mall dengan segala diskon menggiurkan.

Karena tidak semua rasa terkatakan.
Ia sederhana. Sesederhana ketika sesekali ia memberimu surprise sebatang cokelat atau sepotong ice cream, hanya karena ia tahu kamu sangat menggilai dua hal manis itu.

Karena tidak semua rasa terkatakan.
Ia sederhana, sebab hakikatnya cinta itu peduli. Ia yang peduli padamu, akan selalu menginginkan kebaikan untukmu. Ia yang menyayangimu, akan selalu menjagamu tetap berada di jalan kebaikanNya. Ia yang mengakui rasanya untukmu, akan memilihmu karena Tuhan, bukan alasan lain.

Tidak ada komentar: