Cinta adalah bahasa universe yang singgah pada setiap hati
tanpa pernah dinyana dan direncana. Sebuah kebetulan dalam kacamata manusia
yang sesungguhnya telah ada pada skenario Tuhan. Tabuh bertalu pada genderang
hati dengan irama yang syahdu, dalam alunan merdu rindu yang bergerak lirih di
labirin kalbu.
“Tuhan,
apa yang sedang bergerak demikian halus di hati ini ?” tanya itu pernah
menjadi muara pada seberkas keraguan yang belum sanggup diterjemahkan oleh
Riana
Malam-malam panjang menjadi rekam
jejak rasa yang dibaginya kepada langit. Di sudut kamar dengan jendela lebar,
ia leluasa untuk menatap bintang di angkasa. Aksaranya bisu namun tidak saat
pertemuannya dengan malam. Ia tumbuh dengan semangat luar biasa dan menjelma selayak
bidadari dalam rona tatapan tajam.
Rasa itu datang, tak pernah diminta.
Rasa itu menari, tak pernah berhenti. Berawal dari pertemuan tak sengajanya
dengan seorang lelaki muda yang belum juga sempat ia temui. Dalam maya yang
memeluk mereka, kedekatan terjalin demikian erat. Bisa karena biasa, begitu
mungkin yang sedang ia alami kini. The
right man in the right time. Lara yang menoreh luka demikian dalam di hati
Riana seakan terbasuh oleh kehadiran Reza. Hatinya memang belum lagi utuh sejak
kepergian sang kekasih dalam sebuah penghianatan janji setahun silam. Kejadian
yang nyaris menguras air matanya hingga mengering. Samudera kesabaran menjadi
ujian yang luar biasa kala itu.
“Kadang kita terlalu egois memandang
sebuah kejadian. Padahal sesungguhnya kita pantas untuk berterima kasih pada
segala kegetiran itu. Sebab dari sanalah kita tahu bahwa kita adalah pribadi
tangguh yang sanggup bangkit di atas segala keterpurukan” nasihat Reza
“Kamu bisa berkata begitu sebab kamu
nggak berada di posisiku sekarang. Andai saja …”
“Jangan pernah berandai-andai. Tuhan
tak suka itu”
“Okey, sekarang apa yang harus aku
lakukan ? Diam begitu saja setelah apa yang dia lakukan padaku ?”
“Ya. Diam, ikhlas dan maafkan saja”
“Apa ? Kamu nggak bercanda bukan ?”
“Lakukan saja. Kamu nggak akan
pernah tahu kamu mampu jika tak pernah mencobanya. Untuk apa menangisi
semuanya, hanya membuang waktu saja. Untuk apa terpuruk oleh kenyataan, sia-sia
saja. Aku yakin kamu bisa, masa kamu sendiri nggak yakin ?”
Ucapan-ucapan Reza yang sungguh
lugas sempat menyentil kesensitifan rasa Riana. Ada yang tak bisa ia terima namun dalam akal
sehat ia pernah membenarkan semua itu. Hingga akhirnya ia putuskan untuk
melakukan apa yang disarankan oleh Reza.
Kedekatan mengalir begitu saja.
Keduanya menjadi demikian erat dalam pertalian yang tak pernah mereka sadari.
Malam-malam selalu menjadi muara yang mengantarkan khayalan mereka tentang masa
depan pada sebuah diskusi. Riana merasa nyaman berbagi tentang apa saja pada
Reza. Lelaki itu bukan lagi hanya teman sesaat yang kemudian hilang tak
berjejak. Reza justru menjadi bagian dari hidup yang tak lagi bisa dihilangkan
begitu saja. Ada
sebuah ruang yang sedang Riana buka. Ruang yang dulu pernah berpenghuni namun
kemudian sang penghuni memilih untuk meninggalkan ruang itu. Riana sempat
menutup rapat pintu ruang itu, berharap tak akan pernah lagi terbuka. Sayang,
waktu tak bisa diajak berdamai. Dengan kesabaran penuh, dalam keramahan sangat
Reza dapat memutar kunci dan membuka pintu ruang itu. Ia memang belum
melangkahkan kakinya untuk tinggal namun Riana telah menyiapkan taman terindah
disana. Bukan sekedar disinggahi tapi membuat Reza menetap nyaman hingga takdir
sang empunya hidup menyatukan mereka pada sakral nan suci atas nama pernikahan.
***
Tak sengaja kesibukan menjadi jeda
pertemuan maya mereka. Kehidupan nyata bergerak demikian hebat hingga luang
menjadi sesuatu yang sangat langka untuk didekap. Reza hanyut dalam kesibukan
rutinitasnya. Ia menjadi sangat jarang menggeluti kehidupan maya. Sesekali saja
menyapa, sayang waktu tak lagi mempertemukannya dengan Riana. Gadis itu terpaku
mendekap hangatnya rindu. Entah mengapa serasa ada yang bergolak namun tak
mampu dibacanya.
Berkali-kali Riana mendatangi rumah
maya Reza. Bukan lelaki itu yang ia temui tapi perempuan-perempuan hebat
lainnya. Mereka yang dengan sikap keterusterangannya dengan gamblang
mengabarkan ketertarikan hati. Hingga ada beberapa yang menjelaskan dengan
sangat hebat tentang perasaan mereka. Kalimat-kalimat cantik yang puitis
semakin sering saja menggenapi pelataran beranda Reza. Riana menyadari dalam
segala keterbatasan dirinya, ada ruang yang sebenarnya sanggup menyempurna. Dan
itu akan nyata dengan adanya Reza. Sayang, ia tak sanggup menterjemahkan segala
perhatian yang selama ini dicurahkan oleh Reza. Sebelumnya ia pernah mengira,
dialah perempuan terpilih itu. Tetapi perhatian itu bukan hanya dihadiahkan
oleh Reza kepadanya saja sebab nyaris semua perempuan yang mengenalnya
mendapatkan hal serupa.
“Banyak banget ya yang mengagumi
kamu ?” ucap Riana suatu kali
“Disyukuri saja. Aku nggak bisa
melarang orang lain untuk suka padaku. Itu hak mereka”
“Lalu kamu ?”
“Semua sudah aku anggap adik kok”
Riana tersentak. Adik ? Ah
jangan-jangan, itu pula yang terjadi dengan dirinya.
“Banyak banget dong adiknya. Aku
adik yang keberapa nih ?” sengaja ia memancing demi mendapati jawaban
Henig, diam. Reza tak pernah
menjawab pertanyaan itu bahkan hingga detik ini. Riana cukup berlega hati,
setidaknya Reza mengisyaratkan bahwa dia berbeda dengan yang lainnya.
***
“Rez, selamat ulang tahun ya. Semoga
umurnya berkah dan cepat bertemu dengan bidadari hati”
“Aamiin.
Aku yakin Tuhan sedang mengaturnya dengan cara yang sangat indah untukku kini”
Riana semakin tegas akan apa yang
berbisik di kalbunya. Kedekatan yang belum pernah mempertemukan mereka dalam
nyata telah sanggup menggiringnya pada sebuah keputusan besar. Ya, Reza adalah
lelaki tepat yang diinginkannya. Bukan karena status, wajah atau materi. Tapi
kedekatannya dengan Tuhan yang menjadikan Reza begitu istimewa.
Perlahan makna cinta dipahami Riana
dalam bahasa berbeda. Tak ada lagi sikap menggebu yang berapi-api untuk
menyatakan cinta. Riana menjelma menjadi gadis lembut yang sangat menata
hatinya untuk sebuah rasa. Reza mungkin telah berhasil membuka hatinya tapi
Riana tak pernah merelakan perasaannya
mengabadi pada lelaki itu. Rasa itu hanya dilabuhkannya kepada Tuhan, segenap
rindu yang tumbuh dikabarkannya kepada Tuhan saja. Tak pernah ia biarkan
seorangpun membacanya kecuali Tuhan.
Duhai
penilai hati,
Tertatih
hati meniti jalan cintaMu
Dalam
percaya yang mendatangi diri
Luruh
aku pada separuh hati yang ternanti
Rindu
mengalun syahdu
Di
kedalaman rasa yang berdenting lirih
Berbisik teramat halus dan kelu
Dalam bahasa diam yang coba tereja
Kutitipkan rindu di pelataran senja
Tentang jingga yang sedang kau
renda
Tentang waktu yang harus kueja
Tentang bahasa bisu yang bernyawa
Riana hanyut dalam malam-malam panjang pada pertemuannya dengan Tuhan. Sajian
langit di sepertiga malam menjadi jamuan cinta paling romantis yang pernah ia
temui. Hatinya merindu, namun dilabuhkannya pada Tuhan. Cukup Dia saja yang mengabarkan kepada Reza
tentang apa yang bergerak di sepenggal hatinya. Mendamba karena Tuhan, merindu
sebab Tuhan dan mencinta cukup karenaNya
saja. Riana mencoba menggiring hatinya pada penantian indah yang dijanjikan
sang pemilik hati. Penantian yang kelak akan berbuah manis ketika takdir
menyatukan pertalian mereka pada seutas tali indah bernama pernikahan nan suci.
Doa malam menjadi labuhan yang terpantaskan bagi para perindu.
***
Perlahan waktu menjarakkan keduanya.
Saling membatasi diri untuk lebih peka atas apa yang ada diantara mereka.
Kadangkala kita memang butuh “jauh” untuk merasakan artinya “dekat”. Seperti
halnya kalimat yang tak bermakna jika tak ada spasi.
Untuk
bidadari hati, entah siapa, entah dimana
Gemericik
nada rindu memintal rasa
Sepenggal sapa menjadi bahasa
Seutas
rindu menautkan jiwa
Izinkan
berlabuh di cintaNya saja
Kalimat puitis yang ditemuinya pada catatan
Reza memberikan penegasan bahwa sesungguhnya Riana sedang berada dalam
penantian. Sebuah masa yang ia sendiri tak tahu sampai kapan. Dipahaminya apa
yang bergejolak di kalbu tapi iapun mencoba memberi ruang yang tepat bagi sapa
manis cinta.
Waktu telah merenggangkan ruang
antara mereka tapi bukan untuk terberai. Reza sedang memberi jarak untuk Riana
mengasah peka. Reza sedang menata hatinya dengan sangat rapi untuk Riana
memahami makna hakiki sebuah rasa.
Tak ada lagi pertemuan yang intens pada dunia maya mereka. Diam,
hening pada titian kalbu yang sedang diterjemahkan dengan lebih bijak. Dalam
diam Reza, ada bahasa cinta yang terindah. Cinta memang tak pernah meminta
untuk menanti tapi memberi kesempatan kepada dua hati untuk berjumpa pada
bahasa cintaNya. Segenap rasa
dibiarkan menari dalam cintaNya saja,
untuk sebuah pertemuan yang Dia janjikan
kelak.
***
2 komentar:
saya suka mbk endang.
terus bikin puisi untuk indonesia ya
terima kasih mas imam
menulis dan terus menulis
Posting Komentar